Aklimatisasi Orang Eropa Ketika Berada di Batavia

Pada masa kolonialisme serta imperialisme bangsa Eropa di Indonesia, para penjajah tidak hanya memikirkan semboyan Gold, Glory, dan Gospel yang […] Artikel Aklimatisasi Orang Eropa Ketika Berada di Batavia pertama kali tampil pada GEOTIMES.

Aklimatisasi Orang Eropa Ketika Berada di Batavia

Pada masa kolonialisme serta imperialisme bangsa Eropa di Indonesia, para penjajah tidak hanya memikirkan semboyan Gold, Glory, dan Gospel yang mereka gaungkan untuk mendasari aktivitas eksplorasi dan eksploitasi. Untuk mendapatkan kekayaan, untuk menyerukan agama Kristen, dan untuk memperoleh kejayaan dari menjajaki tanah-tanah jajahan baru pun diperlukan kemampuan beradaptasi yang baik.

Berbeda dengan hewan dan tumbuhan yang terikat dengan iklim dan musim, manusia merupakan satu-satunya makhluk hidup yang dapat hidup di semua tempat muka bumi. Kenapa Demikian? Karena tumbuhan dan hewan sangat mempertimbangkan kesesuaian keberlangsungan hidup mereka.

Sebagai contoh, bahwa perpindahan hasil panen dari daerah tropis membutuhkan tindakan preventif yang tinggi agar dapat bertahan dengan musim dingin seperti asam jawa (tamarindus indica), pohon salam (laurus nobilis), dan pisang (musa paradisiaca et Sapientum).

Begitu juga hewan, makhluk hidup ini juga menyesuaikan untuk di mana ia hidup. Banyak burung di belahan bumi utara yang melakukan migrasi ke daerah yang lebih panas (lebih tepatnya ke belahan bumi selatan) saat mulai memasuki musim dingin.

Bukan semata-mata untuk mudik, namun alasan ribuan burung bermigrasi adalah untuk mencari makan dan menghindari musim dingin serta melanjutkan siklus perkembangbiakannya. Sama halnya anjing rumahan yang tidak akan mengikuti majikannya ke tengah gurun sahara di Afrika maupun ke bagian utara yang penuh dengan salju abadi.

Keistimewaan manusia yang dapat hidup di seluruh muka bumi, dan dapat pergi dari satu daerah ke daerah lainnya dengan jarak terjauh inilah yang harus kita sadari. Sejarah membuktikan pada abad ke tujuh, kaum Saracen (orang Arab) meninggalkan tanah kelahiran mereka dan pada abad ke-delapan mereka bertempat tinggal di tengah daerah Prancis.

Dalam sejarah modern, ditemukan kisah-kisah menarik seperti kaum Negro menantang dinginnya musim dingin Eropa, kaum Armenia melakukan perjalanan melewati gurun pasir yang panas di Afrika, dan orang Eropa yang mendiami beberapa daerah di bawah garis khatulistiwa seperti Indonesia.

Sebelum orang Eropa dapat menjajaki dan hidup dengan waktu yang lama di daerah tropis Hindia Timur khususnya di Batavia, setidaknya mereka akan merasakan efek perubahan iklim yaitu: kulit, paru-paru dan hati.

Merunut seri naskah kuno nusantara no.50 mengenai Esai Lembaga Kebudayaan Batavia tahun 1826 yang diterbitkan oleh Perpus Press tahun 2018, begitu kulit orang Eropa terkena pengaruh panas di daerah tropis, secara umum akan terasa seperti sengatan yang mengalir deras, menyebabkan rasa gatal dan ruam atau biasa disebut anjing merah (milirium tropicum), keringat lengket yang membanjir, telapak tangan terasa terbakar, yang pada akhirnya warna kulit menjadi percampuran warna merah dan putih khas orang Eropa ras Kaukasoid, kuning pucat, abu-abu pucat atau merah kekuningan.

Selanjutnya paru-paru yang sejatinya berfungsi untuk menukar oksigen dari udara dengan karbon dioksida dari darah, tidak bisa begitu sempurna di Batavia karena oksigen yang terserap tidak sebanyak saat ‘mereka’ di Eropa. Akibatnya pernapasan dan tekanan darah berkurang, serta fungsi paru-paru pun semakin berkurang. Inilah alasan munculnya terdapat sedikit penyakit payudara di daerah tropis dan juga panas yang berkelanjutan memiliki efek yang sangat merugikan bagi hati dan limpa.

Berdasarkan uraian di atas, tubuh orang Eropa menderita di daerah tropis Hindia Timur khususnya di Batavia. Bahkan Batavia dinobatkan oleh orang Eropa sebagai tempat yang sangat tidak layak ditempati dan dapat dengan cepat mengakibatkan kematian. Mungkin orang akan mengira bahwa mustahil bagi mereka untuk hidup di daerah tropis dalam waktu yang lama, dan sangat sulit untuk menentukan kapan gejala aklimatisasi ini berakhir.

Namun banyak orang Eropa yang setelah satu tahun menjadi terbiasa dengan iklim yang panas, seolah-olah rumahnya. Pernapasan menjadi lebih bebas, mengabaikan desakan air pada kulit, tidur lebih tenang, dll. Ada yang berjuang selama dua tahun untuk menyesuaikan diri, dan ada juga yang sejahtera selama dua tahun pertama, dan pada tahun ketiga masih terkena demam aklimatisasi. Tidak sedikit juga yang merasa frustasi lalu kembali ke kampung halamannya.

Artikel Aklimatisasi Orang Eropa Ketika Berada di Batavia pertama kali tampil pada GEOTIMES.