Gerakan Tagar

Mengapa kita wajib menyeimbangkan isian media digital di masa pandemi Covid-19 sekarang? Resesi ekonomi, kematian, dan pengangguran adalah berita yang […] Artikel Gerakan Tagar pertama kali tampil pada GEOTIMES.

Gerakan Tagar

Mengapa kita wajib menyeimbangkan isian media digital di masa pandemi Covid-19 sekarang? Resesi ekonomi, kematian, dan pengangguran adalah berita yang cenderung mendominasi media massa kita. Hampir tak nampak kabar positif ihwal hadirnya virus Corona.

Dampaknya, masyarakat mengidap gangguan kecemasan umum, ketakutan, dan berbagai penyakit mental lainnya. Tidak hanya baby boomers dan milenial saja yang terdampak berita negatif tersebut, namun hingga generasi zoomer. Sebab utamanya adalah karena informasi itu mendengungkan dirinya hampir di setiap platform media sosial.

Barang tentu, setiap generasi yang aktif bermedia sosial beroleh kemungkinan terjangkiti gangguan mental demikian. Selain itu, atas hadirnya informasi negatif itu pula menjadikan manusia bertindak atas dasar afek negatif dan mengacuhkan nilai dasar dirinya: cinta.

Di masa krisis ini, kita menyaksikan kebanyakan manusia justru bertindak atas dasar kemarahan, keserakahan, dan ketakutan. Hal ini nampak jelas pada perilaku panic buying yang pernah terjadi, penolakan atas jenazah pasien Covid-19 dan lain sebagainya.

Tragisnya lagi, banyak kesimpangsiuran dan ketidakkonsistenan informasi yang tersajikan di media warta kita. Belum pula jika berita-berita yang disebarkan adalah informasi bodong alias hoax. Maka bukan hanya penyakit mental yang akan dipicu oleh informasi tersebut. Pelbagai destruksi dan tindak kriminalitas pun akan naik angkanya.

Informasi negatif yang tersebar di media sosial adalah seperti ranjau yang kita pasang di medan peperangan. Barang tentu tindakan itu mulia tujuannya, yakni, agar masyarakat lebih sadar (aware) sehingga persebaran virus dapat terputus. Lebih jauh lagi agar umat manusia dapat berkegiatan seperti masa sebelum hadirnya virus Corona.

Namun alih-alih ranjau itu ternyata juga mengenai rekan perang kita. Ranjau itu justru menghabisi kewarasan mental kawan kita. Hal ini terjadi karena kita tidak paham betul hal ihwal medan perang yang kita jejaki. Kita belum mampu menyusun strategi secara matang untuk melawan musuh melalui media digital.

Maka dari itu, kita tidak boleh hanya menggemakan informasi negatif di media sosial. Kita juga harus menghadirkan dan mendengungkan kabar-kabar positif di media sosial kita. Informasi positif dapat menjadi alutsista dan media pertahanan diri dari gelombang ledakan ranjau yang kemungkinan mengguncangkan mental kita.

Dalam hal ini, kita dapat memanfaatkan Twitter untuk menyebarkan informasi yang demikian. Sebagaimana diketahui, Twitter adalah platform digital yang tidak sedikit penggunanya. Twitter memiliki fitur hashtag (tagar) yang memudahkan tersebarnya dan ditemukannya informasi. Dengan tagarnya pula, Twitter terbukti ampuh dalam menginvensi penggiringan opini dan pergerakan massa.

Siapa yang tidak tahu dan/atau ingat gerakan tagar “2019GantiPresiden”? Sebagai masyarakat yang tinggal di Indonesia tentu kita familier pada tagar tersebut. Tagar itu dicipta untuk mengkampanyekan salah satu pasangan calon presiden pada 2019. Sebab masifnya gerakan itu, bahkan banyak kaos yang tersablon keyword demikian di pasar.

Tidak hanya di Indonesia. Kisaran satu setengah tahun lalu, di Amerika pun muncul gerakan tagar ber-keyword “BlackLivesMatter”. Gerakan ini tersulut karena seorang pria kulit hitam, yakni, George Floyd yang terbunuh oleh penjaga keamanan yang notabene berkulit putih. Kita tahu, gerakan tagar ini pun berhasil menstimulasi puluhan ribu rakyat Amerika turun ke jalan untuk menuntut keadilan.

Melihat dominasi informasi negatif di media digital, saya kira perlu diciptakan tagar ber-keyword “KrisisAdalahPeluang”. Tagar ini berfungsi untuk menyeimbangkan isian media digital kita. Bahwa masa pandemi dan krisis kini tidak hanya membawa malapetaka, namun juga mencipta peluang. Yakni peluang agar kita dapat meredefinisi arti pendidikan, politik, ekonomi, kesehatan, dan setiap aspek kehidupan lain.

Dengan menghadirkan tagar “KrisisAdalahPeluang” pula menjadikan kita tak lagi bertindak atas dasar keserakahan. Menjadikan kita tak lagi bertindak atas landasan ketakutan. Menjadikan kita tak lagi bertindak atas dorongan kemarahan. Menjadikan kita tak lagi bertindak atas dasar keserakahan. Pasalnya, dengan informasi yang hadir kita diajak untuk tetap berpikir optimis.

Jika demikian, tagar tersebut tidak lain adalah angin segar bagi kewarasan jiwa kita. Selain itu, Informasi yang dihembuskan adalah dorongan bagi masyarakat agar melakukan retrospeksi diri sehingga mengaktivasi curiousity (keingintahuan) dan kreatifitas mereka. Sebagaimana dikatakan satu diantara dimensi kecerdasan kreatif adalah positive use of adversity (Zohar & Marshall, 2000).

Kesehatan mental dan kecerdasan kreatif itulah dua hal yang sangat dibutuhkan di masa pagebluk sekarang. Kesehatan mental adalah pondasi dari terjaganya imunitas tubuh. Sedang kreativitas adalah basis dari terciptanya tatanan baru masyarakat yang lebih segar. Dengan kata lain, gerakan tagar “KrisisAdalahPeluang” adalah langkah awal dari terciptanya masyarakat yang sehat di masa pandemi.

Untuk merealisasikan misi ini, tidak hanya butuh peran baby boomers. Generasi zoomer juga harus berkontribusi pada gerakan ini, agar gema gerakan sampai ke setiap penjuru nusantara. Apalagi zoomer adalah penduduk dunia maya yang paling mendominasi saat ini. Tegasnya, seluruh elemen masyarakat wajib berkontribusi di sana.

Karenanya, mari kita sebarkan dan gaungkan informasi positif di media digital. Mari kita semai benih optimisme dan kreatifitas pada masyarakat di masa pandemi. Jika satu langkah mudah dapat kita berikan demi kesehatan, mengapa kita memilih bungkam seolah tak punya pikiran dan kemampuan?

Referensi:

Zohar, D. & Marshall, I., 2000. Spiritual Quotient (SQ). Bandung: Mizan.

Artikel Gerakan Tagar pertama kali tampil pada GEOTIMES.