Kepala IAEA Ungkapkan Kekhawatiran soal Program Nuklir Iran

Kepala pengawas nuklir PBB, Selasa (14/12) memperingatkan pembatasan yang dihadapi oleh beberapa inspektur di Iran diperkirakan memberi dunia "gambaran yang sangat kabur" dari program Teheran yang semakin gencar memperkaya uranium melebihi sebelumnya serta menuju ke tingkat persenjataan. Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Associated Press, Rafael Mariano Grossi mengatakan ingin memberitahu Iran bahwa "tidak ada jalan lain" bagi sejumlah inspekturnya di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) jika Republik Islam itu ingin menjadi "negara yang dihormati" komunitas bangsa-bangsa.” “Kita harus bekerja sama,” kata Grossi dari sebuah hotel di Abu Dhabi, ibukota Uni Emirat Arab, setelah mengunjungi pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di negara tersebut. “Mereka harus bekerja sama dan saya akan memastikan mereka paham bahwa IAEA adalah mitra mereka.” Penegasan Grossi bahwa IAEA yang bermarkas di Wina adalah "auditor" bagi dunia datang ketika negosiasi di Wina tidak berhasil menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Teheran. Beberapa jam sebelumnya, kepala program nuklir sipil Iran bersikeras akan menolak akses badan tersebut ke pabrik perakitan sentrifugal yang sensitif. Pabrik di Karaj itu berada dalam situasi yang digambarkan Iran sebagai akibat serangan sabotase pada bulan Juni. Teheran menyalahkan serangan itu dilakukan Israel di tengah perang bayangan kawasan yang meluas sejak mantan Presiden Donald Trump secara sepihak menarik Amerika dari perjanjian nuklir bersejarah dengan Iranitu. Sejak itu, Iran menolak memberi IAEA akses untuk mengganti kamera yang rusak dalam insiden tersebut. “Jika komunitas internasional melalui IAEA, tidak melihat dengan jelas berapa banyak sentrifugal atau kapasitas yang mereka miliki … apa yang kita miliki adalah gambaran yang sangat kabur,” kata Grossi. "Ini memberikan ilusi dari gambar yang sebenarnya. Namun bukan gambar yang sesungguhnya. Itulah mengapa ini sangat penting." Sambil menekankan dirinya tidak terlibat dalam negosiasi politik yang sedang berlangsung di Wina, Grossi mengakui kemajuan yang dibuat oleh Iran sejak kesepakatan kolaps berarti harus ada perubahan atas kesepakatan aslinya. Sementara Iran bersikeras bahwa programnya untuk tujuan damai, badan intelijen AS dan IAEA mengatakan Iran menjalankan program senjata nuklir terorganisir sampai tahun 2003. [mg/jm]

Kepala IAEA Ungkapkan Kekhawatiran soal Program Nuklir Iran
Kepala pengawas nuklir PBB, Selasa (14/12) memperingatkan pembatasan yang dihadapi oleh beberapa inspektur di Iran diperkirakan memberi dunia "gambaran yang sangat kabur" dari program Teheran yang semakin gencar memperkaya uranium melebihi sebelumnya serta menuju ke tingkat persenjataan. Berbicara dalam sebuah wawancara dengan Associated Press, Rafael Mariano Grossi mengatakan ingin memberitahu Iran bahwa "tidak ada jalan lain" bagi sejumlah inspekturnya di Badan Energi Atom Internasional (IAEA) jika Republik Islam itu ingin menjadi "negara yang dihormati" komunitas bangsa-bangsa.” “Kita harus bekerja sama,” kata Grossi dari sebuah hotel di Abu Dhabi, ibukota Uni Emirat Arab, setelah mengunjungi pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di negara tersebut. “Mereka harus bekerja sama dan saya akan memastikan mereka paham bahwa IAEA adalah mitra mereka.” Penegasan Grossi bahwa IAEA yang bermarkas di Wina adalah "auditor" bagi dunia datang ketika negosiasi di Wina tidak berhasil menghidupkan kembali kesepakatan nuklir Teheran. Beberapa jam sebelumnya, kepala program nuklir sipil Iran bersikeras akan menolak akses badan tersebut ke pabrik perakitan sentrifugal yang sensitif. Pabrik di Karaj itu berada dalam situasi yang digambarkan Iran sebagai akibat serangan sabotase pada bulan Juni. Teheran menyalahkan serangan itu dilakukan Israel di tengah perang bayangan kawasan yang meluas sejak mantan Presiden Donald Trump secara sepihak menarik Amerika dari perjanjian nuklir bersejarah dengan Iranitu. Sejak itu, Iran menolak memberi IAEA akses untuk mengganti kamera yang rusak dalam insiden tersebut. “Jika komunitas internasional melalui IAEA, tidak melihat dengan jelas berapa banyak sentrifugal atau kapasitas yang mereka miliki … apa yang kita miliki adalah gambaran yang sangat kabur,” kata Grossi. "Ini memberikan ilusi dari gambar yang sebenarnya. Namun bukan gambar yang sesungguhnya. Itulah mengapa ini sangat penting." Sambil menekankan dirinya tidak terlibat dalam negosiasi politik yang sedang berlangsung di Wina, Grossi mengakui kemajuan yang dibuat oleh Iran sejak kesepakatan kolaps berarti harus ada perubahan atas kesepakatan aslinya. Sementara Iran bersikeras bahwa programnya untuk tujuan damai, badan intelijen AS dan IAEA mengatakan Iran menjalankan program senjata nuklir terorganisir sampai tahun 2003. [mg/jm]