Masa Depan Nasionalisme: Rasisme di Korea Selatan

Nasionalisme Korea Sebuah bangsa mengutip Anderson (1991), merupakan komunitas politik yang dibayangkan, dibayangkan secara inheren terbatas dan berdaulat. Suatu bangsa […] Artikel Masa Depan Nasionalisme: Rasisme di Korea Selatan pertama kali tampil pada GEOTIMES.

Masa Depan Nasionalisme: Rasisme di Korea Selatan

Nasionalisme Korea

Sebuah bangsa mengutip Anderson (1991), merupakan komunitas politik yang dibayangkan, dibayangkan secara inheren terbatas dan berdaulat. Suatu bangsa dapat dilihat sebagai sesuatu yang primordial, di mana suatu bangsa ada sebagai kelanjutan dari pola etnik lama.

Dari konsep primordial dikatakan bahwa bangsa Korea telah ada sejak awal sejarah Korea. Beberapa berpendapat bahwa rasa kebangsaan Korea (Minjok) sudah ada, bahkan ketika kata tersebut belum diketahui. Kepercayaan ini kian menguat selama penjajahan Jepang di awal abad ke-20. Usaha pelenyapan budaya Korea oleh Jepang membangun etnonasionalisme atau munculnya paham kebangsaan berdasarkan sentimen etnis yang kuat di kalangan penduduk Korea Selatan.

Rasa nasionalisme yang kuat tertanam di kalangan penduduk Korea Selatan  pada akhirnya membawa masyarakat Korea Selatan pada sikap yang melihat dirinya (bangsa Korea) sebagai etnis yang paling unggul. Hal inilah yang membuat ekspresi dan kasus rasisme yang dilakukan warga Korea Selatan terhadap imigran atau penduduk etnis lain sering terjadi.

#SouthKoreaRacist

Penembak Korea Selatan Jin Jong-Oh memicu kontroversi setelah dia menyebut atlet Iran itu teroris. Javad Foroughi adalah peraih medali emas dalam acara menembak, tetapi kemenangannya disambut dengan sinisme oleh Jin Jong-Oh yang mengucapkan kalimat yang kontroversial dengan berkata “bagaimana seorang teroris dapat memenangi posisi pertama dan mendapat medali emas? itu adalah hal yang paling konyol” ujarnya[1].

Setelah mengucapkan hal tersebut ia melakukan klarifikasi dan meminta maaf. Walau demikian, tagar yang naik daun dan menjadi trending ini terlanjur menghantarkan masyarakat khususnya di ranah digital alias netizen menjadi sangat menyayangkan perilaku masyarakat Korea Selatan.

Contoh lain adalah disaat MBC memperkenalkan Indonesia sebagai negara dengan PDB yang sangat rendah dan salah satu negara dengan kasus Covid-19 tertinggi di dunia. Tak hanya Indonesia, negara lain juga diberi narasi yang cenderung negatif, salah satunya Ukraina yang diberi foto ledakan Chernobyl, disusul permintaan maaf secara terbuka karena telah menggunakan gambar-gambar serta keterangan-keterangan yang menyinggung selama upacara pembukaan di Tokyo yang baru terjadi tersebut.[2]

Kedua kasus tersebut menekankan bagaimana nasionalisme yang dibangun oleh Korea Selatan begitu kental sehingga menghasilkan produk-produk negatif. Mengetahui bahwa mereka adalah warga negara Korea Selatan, rasisme menjadi tameng bagi pencapaian nasionalisme itu sendiri. Solusinya adalah dengan memperkuat rasa nasionalisme, namun nampaknya kekuatan nasionalisme yang mereka bangun justru berujung pada diskriminasi dan rasisme di negara lain (chauvinisme).

Berangkat dari kasus rasisme yang sejatinya terjadi di banyak belahan negara lain, kasus rasisme yang terjadi di negara Korea Selatan tentu saja bisa memiliki jalan keluarnya. Mundur sedikit ke dalam teori pendekatan rasisme yaitu Assimilationists dan Pluralist Theories.

Setelah mencermati mengenai kasus yang berkaitan dengan rasisme di korea, dan dilihat dari sudut pandang asimilasi serta akomodasi yang semakin berkembang, maka permasalahan berhubungan dengan rasisme bisa saja dapat diminimalisir dengan baik. Hal ini karena kelompok homogen yang juga merupakan kelompok kontroversial telah berganti generasi. Bisa jadi budaya rasis ini hilang dan terpisah.

Beberapa hal lain yang bisa diterapkan saat menghadapi rasisme bisa dicontoh dari beberapa negara seperti misalnya Australia. Dikutip dari republika, sebanyak 76 persen warga Australia yang bukan keturunan non Eropa melaporkan pernah mengalami diskriminasi.[3]

Dengan adanya pengakuan dari warga negaranya sendiri bahwa Australia sebagai negara yang rasis, Australia tidak tinggal diam melihat kasus rasisme ini, dimulai dari pendidikan sekolah, festival budaya, percakapan bahasa, semua hal ini merupakan bagian dari teori asimilasi, dimana semua ini berujung pada sikap pluralis yang terbuka pada budaya lain. Hal ini dibuktikan dengan masih marak nya penggunaan dan pengajaran bahasa selain Bahasa Inggris di sekolah seperti bahasa Italia, Jerman, Yunani dan Indonesia.[4]

Pemerintah Australia juga memberikan penanganan dalam menghadapi kasus rasisme, dengan taglinenya “Racism is not acceptable”. Korea Selatan juga seharusnya bisa menerima budaya Indonesia misalnya agar tidak memandang sebelah mata dan bersikap rasisme nantinya. Dengan menerapkan sikap netral terhadap budaya yang masuk (asimilasi) akan dapat mengurangi rasa rasisme pada diri pribadi, karena dapat melihat sudut pandang lain dan budaya tersebut pun perlu dihormati.

Masa Depan Rasisme di Korea?

Korea merupakan negara modern yang terus berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan makanan, fashion dan film Korea. Meski sebagai negara besar dan mendapat perhatian dunia yang luar biasa, kasus diskriminasi terhadap beberapa kelompok tidak bisa dihindari. Dimana semakin banyak aksi rasis di Korea Selatan yang justru ditampilkan di media.

Bentuk-bentuk diskriminasi rasial yang terjadi di Korea Selatan dibagikan dalam bentuk tayangan televisi, dimana banyak iklan baik secara eksplisit maupun implisit menampilkan unsur ras di dalamnya. Padahal, kondisi ini tidak mendapat kritik atau tindak lanjut lainnya, program atau iklan rasis justru membawa peningkatan rating di Korea. Di bidang sosial tentang alasan rasis di masyarakat Korea Selatan selalu melakukan diskriminasi terhadap orang asing.

Tingkah laku buruk dari orang asing seringkali merendahkan warga Korea Selatan dan juga membuat mereka tertekan karena selama masa dinas dilakukan oleh militer Amerika Serikat[5]. Kebiasaan buruk kebebasan yang tidak bisa ditoleransi melanggar adat dan norma yang ada di Korea Selatan.

Jika kondisi ini terus berlanjut dan juga didukung oleh minimnya undang-undang anti diskriminasi di Korea Selatan, maka kegiatan rasisme dan tindakan diskriminasi dapat terus berlanjut di mana saja dan kapan saja. Dan tentunya hal ini akan sangat mempengaruhi kondisi bilateral antara Korea Selatan sendiri dengan negara asing lainnya, khususnya Amerika Serikat.

Rasisme di korea selatan terjadi karena dipeliharanya hal yang menyudut kepada perlakuan diskriminatif. Ideologi masyarakat Korea Selatan yang cenderung patriotik kuat menunjukkan bahwa perlakuan masyarakat kurang menerima orang luar. Masyarakat Korea Selatan harus bisa melihat ke depan dan melupakan situasi dan kondisi yang ada di masa lalu karena perlakuan kejam yang mereka alami. Dengan begitu tentu saja masyarakat Korea Selatan bisa ikut andil dalam membangun sebuah harmoni kesuksesan bagi negaranya sendiri.

Daftar Pustaka:

Moon,  H.S.  Katherine, 2015.  South Korea’s Demographic  Changes and their Political Impact. East Asia Policy Paper. Massachusetts

Author :

Muhammad Abdullah Azzam 1810413028

Priscilla Hutabarat 1810413100

Khoirunnisa Syifa Fadhillah 1810413103

Giovani Abel Melando 1810413115

Abigael Leoni 1810413117

Artikel Masa Depan Nasionalisme: Rasisme di Korea Selatan pertama kali tampil pada GEOTIMES.