Metaverse: Proyek Ambisius Membangun Zuckerberg Universe

Kamis (28/11/21), Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook telah membaptis ulang dirinya menjadi Meta. Perubahan ini bukan sekedar rebranding untuk penyegaran […] Artikel Metaverse: Proyek Ambisius Membangun Zuckerberg Universe pertama kali tampil pada GEOTIMES.

Metaverse: Proyek Ambisius Membangun Zuckerberg Universe

Kamis (28/11/21), Mark Zuckerberg mengumumkan bahwa Facebook telah membaptis ulang dirinya menjadi Meta. Perubahan ini bukan sekedar rebranding untuk penyegaran dengan nama perusahaan baru atau desain logo baru, namun hal ini sekaligus menandai proyek ekspansi ke platform komputasi baru yang berfokus pada realitas virtual yang disebut metaverse.

Metaverse merupakan jaringan pengalaman saling terhubung yang diakses melalui headset virtual reality (VR) dan perangkat augmented reality (AR). CEO Facebook tersebut mengatakan, alih-alih hanya melihat konten, di metaverse orang-orang juga dapat terlibat langsung di dalamnya. Contoh paling umum dari hal ini misalnya, rapat kantor virtual dengan kacamata VR, merasakan sensasi menjelajahi dunia game online dengan VR gaming suit, dan mengakses lapisan maya di dunia nyata melalui AR.

Pada 22 Juni 2017, dalam Facebook Communities Summit yang pertama, Zuckerberg mendeklarasikan perubahan visi misi Facebook dari layanan untuk menghubungkan orang-orang menjadi membangun komunitas global. Saat itu, Zuckerberg berbicara tentang menyediakan infrastruktur digital untuk kehidupan masyarakat abad ke-21. Pergerseran fokus ke platform kumputasi realitas virtual lewat metaverse merupakan satu langkah konkret untuk menyukseskan proyek ini.

Bisa dibilang ini merupakan proyek ambisius dari pemilik Facebook, Instagram, WhatsApp, dan perusahaan realitas virtual Oculus yang sekarang kita kenal sebagai Meta untuk menciptakan dunia yang saling terhubung dan terintegrasi di mana realitas sehari-hari kita seperti pekerjaan, kehidupan sosial, dan kebutuhan rekreasi kita melebur dengan realitas virtual yang terjadi di dalam infrastruktur Meta.

Untuk saat ini, tentu hal-hal tersebut masih merupakan fantasi. Namun, yang tidak boleh dilupakan, fantasi ini datang dari salah satu orang paling berpengaruh di muka bumi—dan untuk alasan itu, saya pikir hal ini patut mendapat perhatian kita.

Pertaruhan Zuckerberg

Perusahaan Zuckerberg telah banyak berinvestasi dalam pengembangan perangkat keras VR yang menyiratkan bahwa mereka ingin menjadi pemain dominan di pasar ini. Sebuah pertaruhan yang didasari keyakinan bahwa di masa depan, perangkat VR dan AR akan menjamur di mana-mana seperti yang terjadi pada smartphone saat ini.

Menurut kepala riset internet Evercore ISI, Mark Mahaney, hingga tahun 2021 diperkirakan Facebook telah menjual sekitar lima atau enam juta headset VR seharga 300 dolar, yang totalnya hampir mencapai 2,4 miliar dolar, atau sekitar 3 persen dari pendapatan Facebook. Walaupun tentu saja, bisnis VR masih belum mendatangkan keuntungan bagi Facebook karena dengan sekitar sepuluh ribu orang yang dipekerjakan di departemen pengembangan VR, ongkos operasionalnya menelan biaya antara 5,4 hingga 6,4 miliar dolar.

Seturut dengan perubahan identitas barunya sebagai Meta, sebagian besar keuntungan perusahaan akan dilokasikan untuk investasi di divisi Reality Labs, yang mencakup divisi perangkat keras Oculus. Meta ingin memisahkan bisnis periklanan digital yang selama ini menjadi corong pemasukan utamanya dengan investasi barunya di VR dan AR agar investor dapat melihat dengan jelas biaya dan pendapatan yang terkait dengan proyek tersebut. Tidak tanggung-tanggung, perusahaan akan melakukan pengurangan sebesar 10 miliar dolar dalam laba operasi tahun ini untuk investasi di Reality Labs.

Tentu saja ada risiko yang cukup besar dalam investasi di VR mengingat fakta bahwa saat ini konsumen cenderung lambat mengadopsi teknologi VR. Jika hal tersebut gagal, tidak menutup kemungkinan dalam beberapa tahun ke depan, hanya Zuckerberg dan kepala departemen komunikasi Facebook, Nick Clegg yang akan mengadakan rapat di metaverse yang sepi.

Namun, nada yang lebih optimis diungkapkan perusahan bank investasi dan jasa keuangan multinasional yang berbasis di New York, Goldman Sachs. Mereka memprediksi bahwa industri VR dan AR nilainya dapat mencapai nilai 80 miliar dolar per tahun pada tahun 2025, dengan tingkat pertumbuhan kumulatif tahunan sebesar 40 hingga 80 persen. Bila prediksi ini benar, metaverse akan memainkan peran yang lebih aktif dalam merancang arsitektur digital dunia virtual di masa depan.

Platform digital menciptakan lingkungan di mana pekerjaan, kehidupan sosial, dan hiburan kita semakin berlangsung dalam konteks digital yang siap untuk dimonetisasi. Ide yang mendasari metaverse adalah untuk memperluas cakrawala apropriasi kehidupan manusia ke dalam setiap aspek keseharian manusia. Meta ingin memperluas jangkauannya dari sekadar jejaring sosial global menjadi infrastruktur digital kehidupan sehari-hari.

Laiknya udara untuk hidup kita, Meta ingin menjadi media tak terlihat yang menembus seluruh eksistensi kita. Ini bukan lagi soal pilihan yang kita buat, melainkan ruang di mana pilihan dibuat dan tersedia untuk kita. Idenya adalah Meta akan menjadi perusahaan induk yang bertanggung jawab atas ekosistem yang berkembang dari produk dan layanan yang saling terhubung, semuanya terintegrasi dengan mulus ke dalam dunia hibrida yang dapat dengan mudah mengekstraksi keuntungan di setiap titik dalam sistem. Bila proyek ini sukses, sepertinya kita harus mengucapkan, selamat datang di metaverse: dunia tempat bernaung di Zuckerberg Universe.

Tren Ekspansi Kapitalisme Digital

Sampai saat ini, bisnis yang paling menguntungkan dalam kapitalisme digital masih berasal dari sektor periklanan. Model bisnis yang digunakan perusahaan Big-Tech seperti Google dan Facebook berusaha menawarkan layanan gratis kepada orang-orang dengan imbalan data mereka, yang kemudian akan dianalisis dan dijual. Pada kuartal pertama tahun 2021, 97,2 persen dari total pendapatan Facebook dihasilkan melalui bisnis periklanannya.

Kapitalisme ala metaverse menandai pergeseran fokus perusahaan Big-Tech ke pengembangan perangkat keras dan infrastruktur. Kita telah melihat Big-Tech mulai menghabiskan banyak uang mereka untuk kabel internet bawah laut dan pusat data untuk efisiensi biaya transportasi data. Alphabet dan Amazon masing-masing telah menghabiskan hampir 100 miliar dolar untuk investasi infrastruktur dan aset bernilai tetap lainnya. Ini bukan lagi tentang mengumpulkan data, ini tentang memiliki server dan menguasai dunia digital.

Ekspansi ini akan menghadirkan aliran pendapatan yang lebih luas bagi perusahaan, mulai dari penjualan perangkat keras yang merupakan akses untuk operasionalnya, hingga game, layanan, dan konten di dalamnya. Pada akhirnya perusahaan dapat menawarkan konten berbasis langganan; dapat menjual properti dan pengalaman virtual; dan dapat membebankan biaya kepada perusahaan lain untuk akses ke dunianya.

Platform digital saat ini adalah lingkungan sosial dan ekonomi yang kompleks yang telah dikembangkan melalui penelitian selama puluhan tahun dalam psikologi sosial. Tujuan akhir perusahaan seperti Meta, Alphabet, Amazon bukan lagi tentang menjadi penyedia layanan yang digunakan orang-orang, melainkan membangun infrastruktur tempat orang-orang tinggal. Di dunia baru ini, para baron teknologi akan menetapkan aturan dan menciptakan sistem yang luas untuk mendorong pengguna ke arah perilaku yang menguntungkan bagi perusahaan.

Artikel Metaverse: Proyek Ambisius Membangun Zuckerberg Universe pertama kali tampil pada GEOTIMES.