Pasien Covid-19 Sembuh Capai 91 Persen

Indikator epidemiologis terus menunjukkan tren perbaikan menjelang berakhirnya PPKM level 3–4 periode 23 hingga 29 Agustus 2021.

Pasien Covid-19 Sembuh Capai 91 Persen

MUI: Kondisi Mendesak, Vaksin Pfizer Boleh Digunakan

JawaPos.com – Indikator epidemiologis terus menunjukkan tren perbaikan menjelang berakhirnya PPKM level 3–4 periode 23 hingga 29 Agustus 2021. Pertumbuhan kasus konfirmasi positif harian turun di kisaran 10 ribu per hari dalam dua hari terakhir. Yakni, 10.050 pada 28 Agustus dan 7.427 kasus pada 29 Agustus.

Tingkat kesembuhan juga kembali melampaui angka 90 persen. Tepatnya, 91,4 persen per kemarin (29/8). Dalam satu minggu terakhir, tingkat kesembuhan pasien Covid-19 memang menunjukkan peningkatan. Khusus DKI Jakarta, angka kesembuhan bahkan mencapai 97,5 persen atau lebih tinggi daripada angka persentase nasional.

”Tingginya tingkat kesembuhan pasien ini tak terlepas dari perjuangan para pahlawan kita, para tenaga kesehatan, dan relawan yang bekerja keras mengabdikan diri,” kata Menkominfo Johnny G. Plate.

Hingga 3 Agustus 2021, berdasar data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sebanyak 640 dokter meninggal akibat Covid-19. Itu belum termasuk tenaga kesehatan lain seperti perawat dan petugas di rumah sakit atau pusat isolasi.

Sementara itu, cakupan vaksinasi telah mencapai angka 61 juta dosis pertama dan 34 juta dosis kedua. Namun, progres angka vaksinasi harian belum sesuai harapan, yakni 2 juta per hari.

Menurut Guru Besar Fakultas Kedoteran UI Prof Tjandra Yoga Aditama, target memvaksinasi 2 juta orang per hari harus benar-benar diimplementasikan. ”Akan amat baik kalau masyarakat dipermudah mendapatkan vaksin, misalnya dengan dilakukan vaksinasi di semua puskesmas dan rumah sakit. Jadi, orang bisa divaksin di dekat rumah atau tempat kerjanya secara mudah,” jelasnya.

Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI) Jusuf Kalla memperkirakan program vaksinasi Covid-19 paling cepat selesai dalam tempo dua tahun. Patokannya sejak program vaksinasi digulirkan pemerintah per 13 Januari 2021. Perhitungan tersebut dia dapat dengan mempertimbangkan jumlah penduduk Indonesia.

Seperti diketahui, jumlah sasaran vaksinasi Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Terbaru, sasarannya mencapai 200 juta jiwa dan setiap orang harus disuntik dua dosis. ”Itu artinya 400 juta dosis vaksin yang harus disuntikkan,” katanya dalam vaksinasi Covid-19 yang digelar Ikatan Alumni Universitas Hasanuddin di Jakarta kemarin.

Pria yang akrab disapa JK itu mengatakan, hitungan mudahnya, kegiatan vaksinasi Covid-19 di Indonesia membutuhkan waktu 400 hari. Dengan acuan target pemerintah 1 juta suntikan vaksin setiap hari. Kondisi itu belum menghitung rentang waktu antara suntikan dosis pertama dan kedua. JK menambahkan bahwa realita di lapangan, rata-rata vaksinasi Covid-19 di angka 500 ribu per hari. ”Sejak awal saya katakan sulit untuk selesai dalam waktu satu tahun. Mungkin dua tahun penyelesaiannya,” jelasnya.

JK yang juga ketua umum IKA Unhas berharap semua elemen masyarakat dan perusahaan bergotong royong membantu program vaksinasi Covid-19 yang digulirkan pemerintah sehingga bisa segera mencapai target kekebalan komunal atau herd immunity. JK menyampaikan, selama tujuh bulan program vaksinasi Covid-19, baru terdata 90 juta dosis suntikan vaksin. Sedangkan untuk mencapai herd immunity minimal 350 juta dosis penyuntikan.

Menurut dia, salah satu faktor yang membuat vaksinasi Covid-19 berjalan lambat adalah rumitnya sistem administrasi pendaftaran. Dia berharap sistem pendaftaran vaksinasi dibuat sederhana seperti yang dilakukan di sejumlah negara. ”Orang hanya perlu datang ke sentra vaksinasi. Tidak perlu menyertakan banyak persyaratan,” katanya.

Di Indonesia, kegiatan vaksinasi terlalu banyak prosedur administrasi. Misalnya, harus mendaftar online terlebih dahulu. Bagi sebagian orang, mendaftar online itu tidak mudah. Dia berharap pemerintah tidak perlu khawatir ada masyarakat yang melakukan kecurangan menerima vaksin.

Menurut JK, pemberian vaksin Covid-19 itu berbeda dengan pembagian sembako. ”Kalau pembagian sembako, orang mau saja menerima sampai lima kali sehari. Maka dari itu, pembagian sembako harus diverifikasi,” jelasnya. Namun, vaksinasi Covid-19 tidak demikian. Masyarakat tentu tidak ingin disuntik vaksin sampai dua kali dalam sehari. Bahkan, untuk mau disuntik vaksin dua kali dalam sebulan saja, orang harus dirayu terlebih dahulu. ”Jadi, jangan khawatir ada kecurangan dalam menerima dosis vaksin,” tuturnya.

Sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja menyelesaikan pembahasan fatwa vaksin Pfizer. Hasilnya, vaksin tersebut mengandung unsur haram, tapi tetap boleh digunakan karena kondisi darurat. Dengan demikian, sampai saat ini hanya vaksin Sinovac yang memperoleh fatwa halal dari MUI. Untuk vaksin bikinan AstraZeneca, Sinopharm, dan Pfizer, fatwanya haram. Tetapi, ketiganya boleh digunakan karena kondisi yang mendesak.

Sekretaris Dewan Halal Nasional (DHN) MUI Nandra Hosen mengatakan, sidang pleno penetapan fatwa vaksin Pfizer sudah selesai. ”Tetapi, redaksinya masih diperbaiki,” ujarnya. Dia membenarkan bahwa fatwa vaksin Pfizer adalah haram, tapi boleh digunakan karena pertimbangan kondisi darurat dan menjadi hajat hidup orang banyak.

Hosen menjelaskan, perusahaan pembuat vaksin Pfizer membeli bahan baku dari perusahaan lain. Nah, di dalam bahan baku itu ada unsur heparin. Kandungan itulah yang membuat Pfizer haram karena ada unsur babi. Dia menjelaskan, vaksin Pfizer tetap bisa digunakan saat ini. Apalagi, pemenuhan vaksinasi Covid-19 di Indonesia masih 130 juta dosis vaksin dari 200 juta jiwa penduduk sasaran.

Hari Ini 610 Sekolah di Jakarta Mulai Pembelajaran Tatap Muka

Sejumlah daerah bakal mulai melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas menyusul turunnya level PPKM.

Di DKI Jakarta, 610 sekolah dijadwalkan mulai PTM hari ini. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nahdiana menyampaikan, pemberlakuan PTM terbatas itu sesuai dengan Keputusan Bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama, Menteri Kesehatan, dan Menteri Dalam Negeri Nomor 03/KB/2021, Nomor 384 Tahun 2021, Nomor HK.01. 08/MENKES/4242/2021, Nomor 440-717 Tahun 2021 tentang Panduan Penyelenggaraan Pembelajaran di Masa Pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Serta, Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 1026 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Level 3 Coronavirus Disease 2019.

Nahdiana menuturkan, bagi sekolah yang menerapkan PTM, guru dan peserta didik wajib sudah divaksin secara lengkap. Vaksinasi tenaga kependidikan di DKI Jakarta sudah mencapai 85,15 persen, sedangkan peserta didik 94,03 persen. Selain itu, sekolah wajib memenuhi daftar periksa yang diberikan Kemendikbudristek.

Pada tahap pertama, kata dia, PTM terbatas digelar dengan kapasitas 50 persen pada setiap satuan pendidikan. Kecuali untuk jenjang PAUD, SDLB, MILB, SMPLB, SMALB, dan MALB maksimal 5 peserta didik per kelas. Tentunya dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Mulai menjaga jarak minimal 1,5 meter hingga mengenakan masker.

Selain itu, pihaknya menetapkan SOP yang harus dipenuhi satuan pendidikan selama menjalankan PTM terbatas. Salah satunya, bila terdeteksi ada warga sekolah yang positif Covid-19, PTM harus dihentikan. Sekolah akan ditutup selama tiga hari untuk dilakukan tracing dan penyemprotan disinfektan. Kemudian, sebelum sekolah dibuka lagi, dinas akan memberikan pendampingan hingga dinyatakan boleh PTM kembali.

Terpisah, Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Moh. Isom mengatakan, uji coba PTM secara terbatas di madrasah dilaksanakan sejak 10 Agustus lalu. Uji coba itu bagian dari upaya persiapan pelaksanaan PTM terbatas pada sejumlah madrasah di setiap provinsi di Indonesia.

”Persentase madrasah yang telah melakukan uji coba PTM sekitar 18 persen dan tersebar di 34 provinsi,” katanya. Isom menjelaskan, uji coba PTM terbatas itu sesuai dengan Surat Edaran (SE) Dirjen Pendidikan Islam Kemenag tertanggal 10 Agustus 2021.