Perspektif Kesehatan Tentang Menstrual Cup dan Pembalut

Keistimewaan seorang wanita yaitu diberikan siklus alami menstruasi yang terjadi di setiap bulan. Umumnya wanita mengalami menstruasi dalam satu bulan […] Artikel Perspektif Kesehatan Tentang Menstrual Cup dan Pembalut pertama kali tampil pada GEOTIMES.

Perspektif Kesehatan Tentang Menstrual Cup dan Pembalut

Keistimewaan seorang wanita yaitu diberikan siklus alami menstruasi yang terjadi di setiap bulan. Umumnya wanita mengalami menstruasi dalam satu bulan hanya sekali. Lamanya menstruasi di setiap bulannya mencapai 3-14 hari, dan selang waktu antara daur menstruasi di setiap bulan biasanya terhitung 28 hari. Namun, setiap wanita memiliki siklus menstruasi yang berbeda-beda dan bisa berubah kapan saja tergantung hormon, keadaan fisik, psikis, pola hidup dan pola makan.

Sebagai penunjang menstruasi, wanita memerlukan alat yang sudah terjamin kualitas dan kesehatannya, agar organ reproduksi terjaga dan tetap sehat. Ada beberapa alat penunjang menstruasi yang tidak asing lagi bagi wanita, seperti pembalut dan menstrual cup. Keduanya itu bisa menjadi pilihan, mana yang nyaman digunakan dan aman bagi kesehatan kita terutama kesehatan organ reproduksi. Sebelum kita memilih apa yang akan digunakan, sebaiknya kita amati terlebih dahulu tentang kelebihan dan kekurangan dari alat tersebut dan bagaimana penggunaannya dalam perspektif kesehatan.

Kelebihan dan Kekurangan Pembalut

Bicara pembalut tentunya sudah tidak asing lagi di telinga kita, yaitu sebuah alat kebutuhan yang sering digunakan wanita saat mengalami menstruasi. Alat tersebut biasanya terbuat dari serat kapas yang sudah di kemas sedemikian rupa dan berfungsi untuk menyerap dan mengunci darah agar tidak bocor. Pembalut sekali pakai mudah didapatkan dimana saja mulai di warung terdekat, pasar swalayan, pasar tradisional, minimarket hingga marketplace online dengan harga yang ekonomis dan banyak sekali jenisnya. Pembalut menjadi pilihan utama para wanita karena lumrah digunakan dan sangat praktis.

Namun, penggunaan pembalut sekali pakai bisa meningkatkan produksi limbah. Kita bayangkan seorang wanita menggunakan pembalut sekali pakai selama satu bulan sekali dalam sehari 3-5 kali ganti pembalut. Penggagas komunitas Zero Waste Nusantara Jeanny Primasari mengatakan pada CNNIndonesia.com, ”Kalau dihitung-hitung, jatuhnya bisa di atas 300 pembalut per orang setiap tahunnya”, dikalikan berapa juta wanita di seluruh dunia yang menggunakan pembalut, tentunya dari pembalut saja bisa menyumbangkan limbah yang cukup banyak dan berbahaya bagi lingkungan.

Pembalut sekali pakai yang sudah digunakan lalu di buang sembarangan seperti ke sungai dan lubang saluran pembuangan air, dll. Hal itu bisa menyebabkan banjir dan terganggunya kebersihan lingkungan karena penumpukan sampah di saluran pembuangan air dan sungai-sungai, sehingga tidak elok untuk dipandang. Ketika sungai atau lingkungan sudah tercemar oleh limbah, maka akan menimbulkan bau yang tidak sedap dan dapat menganggu kenyamanan kita saat beraktivitas.

Tidak hanya itu, dalam pembalut sekali pakai terdapat zat kimia berbahaya apabila zat tersebut masuk ke dalam tubuh kita. Hal itu dibuktikan dari hasil penelitian 5 sampel pembalut eceran yang sering kita temui di pusat perbelanjaan. Dari hasil penelitian tersebut terdapat kandungan zat klorin (Cl2) pada 3 sampel.

Dengan kadar klorin tertinggi dari 3 sampel yaitu 2,52 ppm dan terendah 0,84 pmm, pada 2 sampel yang lainnya kadar klorin ditemukan 0 ppm, sedangkan kadar klorin yang aman digunakan untuk pembalut wanita sekitar 0,01 ppm. Zat kimia berbahaya seperti klorin (Cl2) apabila masuk ke dalam tubuh kita bisa menyebabkan gangguan kesehatan reproduksi seperti menstruasi tidak teratur, keputihan, gatal, hingga iritasi pada organ wanita (Zedadra et al., 2019).

Kelebihan dan Kekurangan Menstrual Cup

Kemajuan teknologi dan inovasi yang kerap kali menghasilkan produk baru yang ramah lingkungan. Bermacam-macam produk diciptakan untuk menunjang kehidupan dan mengatasi segala permasalahan lingkungan. Banyaknya limbah pembalut, seseorang termotivasi untuk menciptakan alat penunjang menstruasi yang ramah lingkungan seperti menstrual cup. 

Menstrual cup adalah cawan atau wadah fleksibel yang terbuat dari silikon yang terjamin kualitasnya dengan ujung yang sedikit meruncing berfungsi sebagai pegangan untuk menarik. Menstrual cup ini berfungsi untuk menampung darah haid dengan cara memasukan alat tersebut ke dalam vagina. Dengan menggunakan menstrual cup kita hanya perlu membersihkannya saat 8-12 jam sekali.

Alat ini sangat aman digunakan karena dapat meminimalisir bau amis dan iritasi kulit. Tidak hanya itu, menstrual cup juga bisa digunakan berulang-ulang dengan cara membersihkannya terlebih dahulu dengan air mengalir dan menggunakan sabun, lalu rebus menstrual cup untuk membunuh kuman yang ada pada alat itu.

Namun, tidak sedikit wanita yang kurang merasa nyaman menggunakan menstrual cup. Banyak kekhawatiran dalam cara penggunaan alat tersebut yang sering kali masih dianggap tabu terutama oleh para remaja. Bagi seseorang yang tidak terbiasa menggunakan alat ini akan merasa tidak leluasa dalam beraktivitas dan banyak menimbulkan kekhawatiran.

Banyak orang menilai bahwa penggunaan menstrual cup ini cukup rumit. Dimulai saat memasukan menstrual cup ke dalam vagina, bagi pemula akan merasa kesulitan. Karena kita pun harus tau ukuran menstrual cup yang akan dipakai agar nyaman saat digunakan. Pada saat mengeluarkan menstrual cup tidak menutup kemungkinan bisa berantakan. Karena jika tidak hati-hati pada saat mengeluarkan alat tersebut darah akan berceceran kemana-mana dan membuat tempat menjadi kotor, bakteri dan kuman bersebaran.

Alangkah lebih baik jika menstrual cup digunakan oleh orang yang sudah menikah. Karena untuk menghindari segala kekhawatiran. Bagi para wanita yang memilih menggunakan pembalut lebih baik sebelum memilih pembalut yang akan digunakan harus mencari tau informasi terlebih dahulu tentang kandungan yang terdapat dalam pembalut tersebut, agar terhindar dari pembalut dengan kadar klorin yang tinggi. Lebih baik lagi jika menggunakan pembalut organik atau membuat sendiri pembalut dari kain dengan inovasi yang baik. Jadi, kalian pilih yang mana?

Sumber

Zedadra, O., Guerrieri, A., Jouandeau, N., Seridi, H., Fortino, G., Spezzano, G., Pradhan-Salike, I., Raj Pokharel, J., The Commissioner of Law, Freni, G., La Loggia, G., Notaro, V., McGuire, T. J., Sjoquist, D. L., Longley, P., Batty, M., Chin, N., McNulty, J., TVERSK, K. A. A., … Thesis, A. (2019). ANALISA KADAR KLORIN PADA PEMBALUT WANITA DARI BERBAGAI MERK YANG DIJUAL ECERAN DI JALAN PIMPINAN MEDAN Dengan. Sustainability (Switzerland), 11(1), 1–14. http://scioteca.caf.com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng-8ene.pdf?sequence=12&isAllowed=y%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.regsciurbeco.2008.06.005%0Ahttps://www.researchgate.net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRATEGI_MELESTARI

Artikel Perspektif Kesehatan Tentang Menstrual Cup dan Pembalut pertama kali tampil pada GEOTIMES.