Sehari Jelang Pemecatan, Lakso Anindito Terima Surat Gagal TWK

"Saya pernah mengadvokasi Mas Novel, bahkan juga pernah melayangkan petisi kepada Firli Bahuri sebelum menjabat Ketua KPK," aku Lakso.

Sehari Jelang Pemecatan, Lakso Anindito Terima Surat Gagal TWK

JawaPos.com – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), bernama Lakso Anindito dikabarkan tidak memenuhi syarat asesmen tes wawasan kebangsaan (TWK). Lakso mengakui sudah menerima surat pemberhentian dengan hormat dari Pimpinan KPK.

Dia akan dipecat dari KPK bersama 57 pegawai KPK lainnya pada 30 September 2021 besok. Mirisnya, surat pemecatan itu diterima Lakso pada Rabu (29/9) hari ini, atau sehari sebelum tanggal pemecatan.

“Resmi jadi orang ke-58, surat pemberhentian ditandatangani sehari sebelum tanggal 30 September 2021,” kata Lakso dikonfirmasi, Rabu (29/9).

Saat dihubungi JawaPos.com, Lakso mengaku dirinya melakukan asesmen TWK susulan karena sebelumnya sedang menyelesaikan pendidikan di luar negeri. Dia mengikuti TWK bersama dua rekan lainnya, tetapi hanya dirinya yang gagal.

“Satu dari tiga orang yang ikut susulan tugas belajar,” ujar Lakso.

Lakso merupakan anak buah dari Kasatgas Andre Dedi Nainggolan yang juga akan diberhentikan pada 30 September 2021 besok. Dia merasa terdapat ketidakadilan, karena harus dipecat dari KPK.

“Rasanya ada ketidakadilan, karena surat itu baru diberitahu sehari sebelum tanggal 30 September, hanya waktu kurang dari 24 jam, tidak adil, dari sisi ada terburu-buru,” sesal Lakso.

Lakso mengakui tidak ada perubahan dalam pelaksanaan asesmen TWK dari sebelumnya. Padahal, Ombudsman RI dan Komnas HAM telah menyatakan malaadministrasi dan adanya pelanggaran HAM dalam pelaksanaan TWK. Tetapi temuan dua lembaga negara itu tidak diindahkan dan menjadi bahan koreksi.

“Yang menjadi poin penting adalah tidak berubah, padahal ada temuan dari Komnas HAM ada pelanggaran HAM. Tidak ada upaya dalam perbaikan. Bahkan 80 persen pertanyaan soal setuju revisi UU KPK dan soal TWK tahap satu yang dilaksanakan,” papar Lakso.

Oleh karena itu, Lakso menegaskan dirinya tidak terpisahkan dari 57 pegawai yang sebelumnya dipecat dari KPK. Menurutnya, hal ini merupakan upaya serius bentuk penyingkiran kepada para pegawai KPK yang dinilai berintegritas.

“Jadi, yang paling penting, saya tidak terpisah dari 57 pegawai yang lain, ini upaya sistematis,” beber Lakso.

Dia pun mengakui sudah menangani perkara-perkara besar sejak 2015 menjadi penyidik di KPK. Bahkan dia mengakui aktif berorganisasi di Wadah Pegawai (WP) KPK.

“Saya pernah mengadvokasi Mas Novel, bahkan juga pernah melayangkan petisi kepada Firli Bahuri sebelum menjabat Ketua KPK,” pungkasnya.